Internasional | Lensa Negeri.co.id
Harga minyak dunia dilaporkan mengalami lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran global karena dapat berdampak pada harga bahan bakar hingga biaya transportasi di berbagai negara.
Berdasarkan laporan pasar energi global, harga minyak mentah jenis Brent sempat melonjak hingga sekitar 119,50 dolar AS per barel, naik hampir 29 persen dibandingkan sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi setelah konflik militer meningkat dan memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak ini juga dipicu oleh ancaman gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut membuat pasar global khawatir pasokan minyak akan terganggu.
Selain itu, sejumlah serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah turut memperburuk situasi. Serangan drone terhadap fasilitas kilang minyak besar di Arab Saudi sempat menghentikan sementara aktivitas produksi dan ekspor minyak, sehingga menambah tekanan pada pasar energi dunia.
Namun dalam perkembangan terbaru, harga minyak mulai sedikit stabil setelah muncul sinyal kemungkinan meredanya konflik. Pernyataan sejumlah pejabat internasional mengenai peluang deeskalasi perang membuat harga minyak turun kembali dari puncaknya dan pasar keuangan global mulai pulih.
Para analis menilai bahwa selama konflik di Timur Tengah masih berlangsung, harga minyak dunia akan tetap berfluktuasi dan berpotensi memengaruhi perekonomian global, termasuk inflasi dan harga bahan bakar di berbagai negara.
Jika konflik berlanjut dan jalur distribusi energi terganggu lebih jauh, para pengamat memperkirakan harga minyak dapat kembali melonjak dalam waktu singkat. (Sel)








