Malaysia | Lensa Negeri.co.id
Seorang profesor di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), Dr. Solehah Yaacob, diberhentikan dari tugas akademis setelah sejumlah klaim kontroversial mengenai sejarah dan peradaban Melayu kuno menjadi sorotan publik.
Salah satu pernyataan yang menuai perhatian adalah klaim bahwa masyarakat Melayu kuno memiliki kemampuan untuk terbang dan bahkan mengajarkan apa yang disebutnya sebagai “kungfu terbang” kepada masyarakat China.
Pernyataan tersebut mendapat sorotan dan cemoohan dari sejumlah kalangan, termasuk para sejarawan yang mempertanyakan dasar akademis dari klaim tersebut.
Dalam pernyataannya yang dikutip The Star dan South China Morning Post (SCMP) pada Rabu, 26 Agustus 2026, IIUM menyatakan bahwa Solehah telah diberhentikan dari tugas akademis sejak 27 April 2026.
Pihak universitas juga menegaskan bahwa Solehah tidak lagi memiliki hak untuk menggunakan afiliasi, jabatan, maupun gelar yang mengatasnamakan IIUM.
Kantor Komunikasi, Advokasi, dan Promosi IIUM menyatakan bahwa Solehah bukan lagi bagian dari jajaran akademik universitas tersebut.
“Dia bukan lagi seorang profesor dan tidak berhak mengklaim asosiasi apa pun dengan universitas ini,” demikian penegasan IIUM dalam pengumuman yang disampaikan pada Minggu, 23 Agustus 2026 waktu setempat.
IIUM juga melarang Solehah menggunakan jabatan atau hubungan resmi dengan universitas tersebut dalam berbagai bentuk materi, termasuk promosi, pemberitaan media, publikasi maupun iklan.
Universitas menegaskan bahwa klarifikasi tersebut disampaikan untuk mencegah kesalahpahaman di tengah masyarakat sekaligus menjaga integritas dan reputasi akademik IIUM.
Ajukan Banding
Sementara itu, Solehah diketahui telah mengajukan banding atas keputusan pemberhentian dirinya melalui Pengadilan Industri Malaysia.
Dalam proses tersebut, ia menuduh pihak universitas telah bertindak tidak profesional terkait keputusan pemberhentiannya.
Kontroversi mengenai Solehah sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Namanya mulai menjadi perhatian publik sejak November 2025, ketika ia menyampaikan klaim bahwa bangsa Romawi kuno kemungkinan mempelajari teknik pembuatan kapal dari para pelaut Melayu.
Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan di Malaysia. Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia, Datuk Seri Zambry Abdul Kadir, saat itu mengimbau para akademisi agar menyampaikan pernyataan sesuai dengan bidang keahlian dan kajian akademis mereka.
IIUM sebelumnya juga telah menyatakan bahwa pandangan pribadi Solehah mengenai berbagai teori sejarah tersebut tidak mewakili posisi resmi universitas.
Kembali Picu Kontroversi
Belakangan, Solehah kembali menjadi sorotan setelah mengemukakan teori lain mengenai sejarah Malaysia. Ia mengaitkan melimpahnya cadangan bijih besi di Kedah dengan fenomena hujan meteor pada masa lampau.
Klaim tersebut kembali memicu perdebatan di kalangan akademisi maupun masyarakat umum.
Serangkaian pernyataan kontroversial itu akhirnya membuat posisi Solehah sebagai akademisi IIUM menjadi sorotan. Meski demikian, proses hukum terkait pemberhentian dirinya masih berjalan setelah ia mengajukan banding melalui Pengadilan Industri Malaysia.
Hingga kini, perdebatan mengenai klaim-klaim sejarah tersebut masih menjadi perhatian publik, terutama terkait pentingnya penggunaan sumber, bukti, dan metodologi akademik dalam menjelaskan sejarah suatu peradaban. (Seli)








