Jakarta | Lensa Negeri.co.id
Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan militer besar terhadap Iran, memicu respons keras dari Teheran dan memicu kekhawatiran akan eskalasi perang di kawasan yang lebih luas, Selasa 3 Maret 2026.
Bermula pada tanggal 28 Februari 2026, militer Israel bersama AS memulai serangan udara dan rudal besar-besaran yang menargetkan fasilitas militer serta beberapa instalasi strategis di Iran. Operasi ini menurut pihak Israel dan Washington dimaksudkan untuk “menekan kemampuan militer Iran” dan mengatasi yang mereka anggap sebagai ancaman nuklir serta rudal.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang rudal dan drone menjangkau wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, menargetkan setidaknya 27 lokasi strategis, termasuk pangkalan udara dan pusat militer di Israel.
Perluasan Konflik di Kawasan
– Libanon kini juga menjadi bagian dari perang setelah kelompok Hezbollah, yang didukung Iran, menembakkan roket ke arah wilayah Israel. Pasukan Israel kemudian membalas dengan serangan udara ke wilayah Lebanon selatan.
– Serangan Iran juga dilaporkan mencapai wilayah lain di Timur Tengah, menyebabkan korban sipil dan militer di beberapa negara tetangga.
Korban dan Kerusakan
Sumber berita internasional melaporkan ratusan korban tewas dan luka di kedua belah pihak. Pihak Iran mencatat banyak kematian dan cedera di beberapa provinsi, sementara Israel dan AS juga melaporkan jatuhnya korban serta kerusakan infrastruktur akibat serangan balasan.
Dampak Global Berkepanjangan
Konflik ini telah menimbulkan dampak signifikan di luar medan perang:
Ribuan penerbangan dibatalkan seluruh Timur Tengah akibat penutupan wilayah udara dan kekhawatiran keselamatan, termasuk di bandara-bandara utama seperti Riyadh, Dubai, dan Doha.
Harga minyak mentah dunia melonjak, memicu kekhawatiran inflasi serta tekanan di pasar energi global.
Reaksi Dunia dan Kekhawatiran Perang Besar
PBB dan banyak negara menyerukan gencatan senjata dan langkah diplomatik, mengingat risiko konflik ini berkembang menjadi perang yang lebih luas. Namun, analis memperkirakan konflik ini bukan peristiwa singkat dan berpotensi berkepanjangan karena kedua belah pihak tetap bersikukuh pada tujuan strategis mereka.
Efek ke Indonesia
Bagi Indonesia, konflik berpeluang mempengaruhi harga energi dan logistik, seperti kenaikan biaya impor energi dan biaya logistik nasional, yang bisa berdampak pada pergerakan harga barang serta defisit anggaran.
Dengan eskalasi yang terus berlanjut dan respons berbagai negara, konflik Israel-AS vs Iran kini bukan hanya persoalan regional, tetapi juga isu yang berdampak luas terhadap kestabilan politik, ekonomi, dan keamanan global. (Sel)








