Internasional | Lensa Negeri.co.id
Konflik antara Iran dan Israel terus memanas sejak akhir Februari 2026. Hingga awal Maret, kedua pihak masih saling melancarkan serangan udara, rudal, dan drone yang menyebabkan meningkatnya korban serta ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Serangan besar-besaran pertama dilaporkan terjadi pada 28 Februari 2026 ketika Israel, bersama dukungan militer dari Amerika Serikat, melancarkan operasi militer terhadap sejumlah target strategis di Iran. Operasi yang dikenal sebagai Operation Lion’s Roar menargetkan fasilitas militer, sistem pertahanan udara, hingga lokasi yang diduga terkait program rudal Iran.
Dalam serangan awal tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, dilaporkan tewas akibat serangan udara di Teheran. Setelah itu, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru negara tersebut, Rabu (11/03/2026).
Serangan Balasan dan Dampak ke Warga Sipil
Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke wilayah Israel. Beberapa serangan dilaporkan mengenai area permukiman di sekitar Tel Aviv dan kota-kota lainnya. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa serta kerusakan pada bangunan sipil.
Israel juga menetapkan status darurat nasional di seluruh wilayahnya. Sekolah dan sejumlah fasilitas umum ditutup sementara, sementara puluhan ribu tentara cadangan dimobilisasi untuk menghadapi potensi serangan lanjutan.
Serangan ke Infrastruktur Energi Iran
Dalam perkembangan terbaru, serangan udara Israel dilaporkan menghantam depot minyak dan fasilitas energi di sekitar Teheran. Serangan tersebut memicu kebakaran besar dan asap hitam tebal yang menyelimuti sebagian wilayah ibu kota Iran. Pemerintah Iran mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai kejahatan perang, sementara Israel menyatakan target tersebut merupakan bagian dari fasilitas pendukung militer Iran.
Konflik Meluas ke Kawasan
Ketegangan tidak hanya terjadi antara Iran dan Israel. Kelompok bersenjata di Lebanon, termasuk Hezbollah, juga terlibat dalam serangan terhadap wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Situasi ini menyebabkan konflik meluas hingga wilayah Lebanon dan meningkatkan kekhawatiran akan perang regional yang lebih besar.
Sementara itu, laporan terbaru menyebutkan ratusan korban telah jatuh dan ribuan warga di kawasan Timur Tengah terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik yang terus meningkat. Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, terus mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan mencari solusi diplomatik guna menghentikan perang yang berpotensi memperburuk stabilitas global.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda gencatan senjata antara kedua negara, sementara serangan militer masih terus dilaporkan di berbagai titik strategis di kawasan tersebut. (Sel)








