Nepal | Lensa Negeri.co.id
Banjir bandang dahsyat melanda sejumlah wilayah Nepal setelah luapan sungai Bhotekoshi dan Trishuli pada Rabu (26/8/2026). Bencana tersebut menyebabkan kerusakan besar pada permukiman, jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik tenaga air, serta sejumlah infrastruktur penting lainnya.
Berdasarkan data terbaru otoritas Nepal pada Senin (31/8/2026), sedikitnya 903 orang meninggal dunia, sementara 4.347 orang masih dilaporkan hilang dan 267 lainnya mengalami luka-luka.
Bencana tersebut berdampak pada sejumlah distrik, di antaranya Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Gorkha, Nawalparasi Timur, Nawalparasi Barat, Tanahun, dan Chitwan. Tim penyelamat masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang hilang maupun warga yang terjebak akibat banjir dan longsor.
Ribuan Personel Dikerahkan
Pemerintah Nepal mengerahkan lebih dari 20.800 personel yang terdiri dari kepolisian, tentara, serta pasukan bersenjata untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan.
Hingga Senin, lebih dari 10.459 orang yang terdampak banjir dan longsor telah berhasil diselamatkan. Angkatan Darat Nepal juga melakukan evakuasi menggunakan helikopter untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat.
Sebanyak 411 penerbangan helikopter telah dilakukan dalam operasi penyelamatan tersebut, termasuk untuk mengevakuasi warga Nepal maupun warga negara asing yang terdampak bencana.
Dipicu Luapan Air dan Dugaan Longsoran Es
Banjir bandang terjadi setelah adanya peningkatan aliran air secara tiba-tiba ke Sungai Bhotekoshi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut banjir di wilayah Rasuwa kemungkinan berkaitan dengan longsoran es dari wilayah hulu serta terbentuknya bendungan sementara di Sungai Lhende.
Air yang kemudian mengalir deras ke wilayah hilir menyebabkan banjir besar di sepanjang koridor Sungai Bhotekoshi dan Trishuli.
Dampaknya sangat luas. Rumah-rumah warga, jalan, jembatan, serta fasilitas pembangkit listrik mengalami kerusakan. Sejumlah wilayah juga masih menghadapi ancaman longsor dan banjir susulan sehingga proses evakuasi dan distribusi bantuan menjadi lebih sulit.
Ratusan Pekerja Diduga Masih Terjebak
Salah satu tantangan terbesar dalam operasi penyelamatan adalah upaya menjangkau ratusan pekerja yang diduga masih terjebak di dalam terowongan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.
Reuters melaporkan sekitar 933 pekerja masih terjebak atau belum ditemukan di terowongan pada sejumlah proyek pembangkit listrik di distrik Rasuwa dan Nuwakot. Tim penyelamat menggunakan alat berat, teknologi pendeteksi kehidupan, hingga metode khusus untuk membuka akses menuju terowongan.
Kondisi medan yang sulit, lumpur tebal, cuaca, serta potensi banjir susulan menjadi kendala bagi tim penyelamat.
Pemerintah Nepal bersama berbagai lembaga terkait terus melakukan pencarian dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak. Bantuan berupa makanan, obat-obatan, perlengkapan darurat, serta kebutuhan dasar lainnya mulai disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak.
Bencana ini menjadi salah satu bencana banjir paling mematikan yang melanda Nepal dalam beberapa tahun terakhir. Proses pencarian korban, identifikasi jenazah, evakuasi, dan pemulihan infrastruktur masih terus berlangsung.
Pemerintah Nepal juga masih memantau kondisi sungai dan wilayah pegunungan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir maupun longsor susulan. (Sel)








